Melda dan Milo

Pernahkah dirimu merasakan seseorang selalu memperhatikanmu? Seperti apa rasanya? Menyebalkan, bukan? Memang. Dan sekarang aku mengalaminya, setiap pulang sekolah, tepatnya setiap aku melewati sebuah rumah tua besar yang harus kulewati untuk sampai dirumahku.

Rumah itu tidak berpenghuni sejak setahun yang lalu, karena sempat dikabarkan, ada lelaki yang meninggal dirumah itu. Aku tidak tahu asal usul jelasnya, dan aku tidak mau tahu. Bukannya aku takut, tapi menurutku itu sangat tidak penting.

Sepertinya itu bukan halusinasiku saja, pasti ada seseorang yang mengikutiku, bahkan sampai aku di depan rumah. Terkadang hanya sampai di depan pagar rumahku. Aku bukan takut, tapi aku sedikit tidak merasa nyaman. Apakah itu makhluk tak kasat mata, atau seorang psikopat gila yang sedang ingin berbuat jahat kepadaku, aku tidak tahu, dan paling penting aku tidak mau tahu.

Seperti biasa, aku berangkat sekolah pagi-pagi sekali. Lebih tepatnya ketika fajar menyingsing. Aku menyiapkan kue kukus buatan ibu yang nanti akan aku titipkan pada Mak Ina, penjual di kantin sekolah.

Hari ini ulangan umum yang ketiga. Jujur saja aku tidak sepenuhnya siap untuk berperang melawan rumus-rumus fisika yang rumit. Semalam aku kelelahan membuat kue kukus, sampai belajar pun tidak bisa berkonsentrasi. Aku tidak mau mengandalkan contekan. Bagiku lebih baik mengerjakan sendiri, entah hasilnya memuaskan atau tidak. Aku juga tidak berharap mendapat contekan dari teman-teman. Karena kelas 2IPA-2 bukan kelas yang mau berbagi hasil pemikiran pada oranglain. Persaingan sangat ketat. Siapa yang tidak mengikuti arus, maka dia akan terlempar jauh dari sana. Aku tidak mau ketika kenaikan kelas 3 tiba, ditendang dari kelas 3IPA-2. Itu sebuah pelecehan secara halus untukku. Melda, pantang dicampakkan!

Jalanan masih sepi. Tentu saja. Aku juga tidak berharap akan ada banyak orang yang mengganggu jalanku. Aku melewati rumah tua itu lagi dan sepertinya akan terus melewatinya. Ada beban tersendiri ketika menapakkan kaki di jalan depan rumah. Aku lagi-lagi seperti diamati. Huh! Orang iseng mana yang menguntitku terus. Aku tidak akan menoleh sedikit pun. Memangnya Melda akan melakukan hal bodoh? Oh, jangan harap.

Entah tersandung atau jalanku yang ‘agak’ cepat, aku terjerembab ke tanah. Sial! Berusaha menghindar malah semakin memperlambat. Masih di depan rumah tua itu, aku memungut keranjang rotiku. Untung saja tidak berceceran.

“Mau aku bantu, Mel?” tiba-tiba suara berat laki-laki menyapaku. Bulu kudukku serentak berdiri. Siapa yang menyapaku ya? Dia juga tahu namaku. Apa aku se-familiar itu? Jangan takut, Mel. Paling ada orang lewat yang kebetulan mau membantumu. Aku harus berfikir positif. Aku mendongak. Lho? Tidak ada? Aku celingukan. Siapa tahu laki-laki itu malu dan cepat-cepat bersembunyi. Tapi bukannya dia mau membantuku?

“Aduh, aku parno amat yah. Kebanyakan nonton film horor nih,” kataku menenangkan diri. Aku cepat-cepat berdiri. Tapi ‘sesuatu’ atau ‘seseorang’ membantuku berdiri. Lenganku seperti terangkat dan aku merasakan hawa sejuk. Aku menoleh. Masih tidak ada siapa-siapa.

“Plis, jangan ganggu aku. Siapapun kamu aku tidak akan menyalahkanmu karena telah membantuku. Pergilah!” aku meyakinkan diri. Barang siapa yang menanam dia akan menuai ‘kan?

“Hei, kamu menolak bantuanku?” suara itu dan kemunculannya secara mendadak membuatku kehilangan kesadaran. Aku pingsan.

*

Aku terbangun, kepalaku terasa sangat berat. Aku memandang sekeliling, aneh sekali, aku sudah berada didalam kamarku, seragamku juga sudah diganti dengan baju biasa. Kenapa aku sudah berada disini? Padahal tadi aku berada di depan rumah tua tadi.

Clek.

Pintu kamarku terbuka, wanita paruh baya masuk. Ibuku. Ibu membawa nampan berisi segelas susu coklat dan kue kukus buatannya yang enak. Dia tersenyum, lalu meletakkan nampan itu kemeja kecil di sebelah tempat tidurku. Ibuku lalu duduk disampingku.

“Bagaimana keadaan kamu, Mel?” Tanya Ibuku. Dia mengelus rambutku pelan, menatapku khawatir.

“Kepala Melda, sedikit pusing.” Keluhku sambil memegang kepala. “Bu,” panggilku.

“Ada apa, Mel?”

“Siapa yang bawa Melda kesini?” Tanyaku sedikit penasaran.

“Tadi, ada laki-laki, Ibu tidak tahu siapa, mukanya asing sekali. Apa kamu tadi bersama dia?” Ibuku bertanya balik, menatapku dengan pandangan menyelidik.

“Tidak, Melda hanya sendiri.” Aku mengubah posisi tidurku menjadi duduk.

“Ya sudah. Kalau begitu kamu habiskan susu dan kue ini, biar badanmu sedikit enak. Kalau kepalamu masih sakit, ada obat dilaci meja kamu. Ibu keluar dulu, kalau ada apa-apa, kamu panggil Ibu.” Aku mengangguk. Lalu Ibuku langsung keluar.

Aku sangat bingung. Siapa laki-laki itu? Apa jangan-jangan… Ah, tidak mungkin. Mungkin itu orang baik yang kenal denganku. Tapi, kenapa Ibuku tidak mengenalinya? Ah, mungkin itu… Mungkin itu seseorang yang tahu rumahku dan Ibuku belum pernah melihatnya. Yang penting, aku sangat berterima kasih kepadanya. Kuharap dia mendengarnya. Jika dia disini tentunya…

“Aku di sini, Mel,” suara laki-laki yang tidak asing di telingaku, menyahut. Aku menoleh ke samping -sisi kananku, yang biasa ditempati bantal gulingku-, tampak sosok laki-laki yang memakai kaos merah dan celana panjang gelap. Sontak aku mundur dan sukses terjungkal ke bawah. Aku memekik pelan. Aku harus berlari untuk meminta bantuan ibu.

Aku cepat-cepat bangkit, hampir menyongsong kenop pintu. Tapi entah dari mana, laki-laki itu ada di depanku. Tersenyum dan menahanku. Apa dia hantu jadi-jadian?

“Ha…hantu…per… gi! Jangan ganggu aku,” aku mundur kembali ke tempatku. Menaikan selimut menutupi seluruh tubuhku. Aku meringkuk takut. Kenapa rumahku bisa disatroni hantu begini? Aku salah apa?

“Kamu nggak salah, Mel. Kamu kan tadi yang bilang mau berterima kasih. Aku udah ada kok kamu takut?” suara itu lagi. Berarti dia belum pergi. Aku perlu membaca ayat kursi, supaya dia pergi.

“Aku kan nggak jin. Mana takut ayat kursi. Aku juga orang islam, Mel.”

Lho? Kenapa hantu itu bisa membaca pikiranku? Aku tidak mengerti, dia hantu apa peramal sih?

“Hantu, Mel. Dari dulu kan para hantu bisa denger apa yang dipikirkan manusia.”

Jadi apa yang aku pikirkan dia tahu?

“Tentu aja.”

Tuh kan?

“Pergi kamu! Aku paling takut sama apapun yang kasat mata. Aku nggak mungkin punya temen hantu, apalagi tinggal serumah. Pergi! Pergi! Plis, aku takut.” Aku menangis. Tidak sekalipun aku berniat untuk bisa melihat benda atau orang yang kasat mata. Tapi kenapa aku bertemu sekarang?

“Mel, aku hanya minta bantuan kamu. Aku nggak akan menyakitimu. Suer!”

Selimutku tertarik ke atas. Aku tidak punya perlindungan sekarang. Pasti hantu itu akan mencabik-cabik dadaku, mengambil jantungku, me…

“STOP, MEL! Kamu ngelantur. Perlu diingat aku bukan monster pemakan manusia. Jijik.”

Aku dapat melihat wajah mualnya di depanku. Kalau diamati benar, hantu itu ‘agak’ manis. Punya lesung pipi juga.

“Aku Milo.” Ternyata namanya Milo. Milo mengulurkan tangan kanannya. Aku tetap diam. Mungkin saja ini tipu daya hantu itu. Aku tidak akan tertipu.

“Ternyata selain pintar, kamu pemikir juga ya? Sudah kubilang kan? Aku nggak akan ngelakuin apa pun sama kamu.”

Milo duduk menyila di depanku. Aku semakin meringkuk ke dalam pelukan lenganku. Dia hantu, jadi sampai kapanpun tetap hantu. Hantu tidak ada yang baik. Aku tidak boleh terlena.

*

“Sampai kapan kamu mau menutupi wajahmu seperti itu?” Tanya Milo padaku. Aku hanya diam.

Dia masih tetap saja duduk didepanku. Sudah setengah jam dia disitu, kenapa dia tidak pergi saja?

“Kamu tidak suka aku disini, Mel?” Tanya Milo lagi.

“Ya, seharusnya kamu tidak disini.” Ucapku sengit. Dia itu hantu, aku tidak perlu berbicara lembut padanya. Aku tidak boleh percaya padanya. Dia hantu!

“Kamu harus percaya padaku, Mel. Aku hanya ingin meminta bantuan saja. Apa kamu tidak mau membantuku?” Tanyanya sedikit sedih, dia menunduk. Aku baru sadar rambutnya berwarna hitam kecoklatan.

“Untuk apa aku membantu hantu?” Tanyaku. “Apakah ada manfaatnya.”

Milo mendongak. Dia tersenyum. “Kamu jadi bisa membantu sesamamu.” Ucapnya kemudian.

“Sesama? Kamu hantu.. Bukan manusia.”

“Memangnya sebelum jadi hantu, aku ini apa?” Milo bertanya sambil menatapku.

“Entahlah.” Aku pura-pura berfikir. “Lebih baik kamu pergi! Aku tidak mau membantumu, kamu tidak seharusnya disini! Pergi!” Ucapku kemudian. Kenapa hantu ini sangat keras kepala? Apa dia tidak tahu kalau aku ini takut melihatnya?

“Baiklah, jika itu mau kamu.” Dia pun langsung menghilang dalam sekejap. Aku hanya diam. Semoga dia tidak datang lagi. Aku meraih susu coklat yang ada dimeja. Lalu meneguknya sampai habis. Dan aku langsung memakai kue yang hanya tersisa satu.

Aku duduk melamun di tempat tidurku. Tanpa kusadari aku memikirkan hantu tadi.

“Milo… Milo… Milo… Kenapa namanya sedikit familiar ditelingaku?” Aku mencoba mengingat-ingat. Tapi nihil. Aku lupa. Dan tidak ingat. Mungkin hanya perasaanku saja. Atau mungkin aku tidak ingat.

Kemunculan hantu Milo membuatku susah tidur. Aku bukan orang kuat yang bisa bantu dia. Aku cuma orang pintar yang tidak mau dimanfaatkan. Oke lah, hantu tidak mungkin memanfaatkan manusia. Tapi manusia ‘kan sering memanfaatkan hantu. Ah, sudahlah. Aku tidak perlu memikirkan hantu konyol itu. Toh dia sudah menghilang.

*

Aku memungut kue kukus yang tidak sengaja jatuh. Aku menyenggol laki-laki yang dilihat dari pakaiannya adakah preman pasar. Sebenarnya dia yang salah karena lari maraton di tempat umum. Tapi kenapa preman itu malah melototiku? Aku merengut masam sekaligus takut.

“Jalan pakek mata, bukan pakek keranjang. Kurang aja banget. Sini kue-nya!” preman itu menarik sisi keranjang yang lain. Aku tidak mungkin menyerah. Aku menarik keranjangku dengan sekuat tenaga.

“Jangan, Bang.”

“Bodo amat.”

Jari-jariku sakit karena menarik keranjang yang memang sisi-sisinya agak lancip. Aku meringis. Preman itu melayangkan telapak tangannya ke udara, bersiap menampar wajahku. Aku hanya bisa menutup mata dalam-dalam. Aku tidak bisa membayangkan kalau tangan kekar itu sampai mendarat di pipiku. Aku tidak akan selamat. Tuhan, jangan biarkan aku teraniaya secara sadis seperti ini.

“Hah! Kenapa dengan tanganku? Kok nggak bisa gerak?” teriak preman itu dengan nada cemas. Aku membuka mata dan ternganga. Preman itu tampak takut dan tentu saja bingung. Aku juga. Aku ingin tahu ada apa sebenarnya. Aku menoleh. Ternyata Milo menahan lengan preman itu. Milo terkekeh.

“Milo? Kok kamu ada di sini?”

“Heh, gila. Ngomong sama siapa kamu? Jangan-jangan kamu punya ilmu sihir?” Preman pasar itu menggeram tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

“Enak saja. Aku orang baik-baik tauk!”

“Sialan. Kamu mau mengerjaiku? Heh? Lepas atau aku bunuh?”

“Milo, lepas!” aku merinding. Aku tidak mau mati muda.

“Dia jahat, Mel. Aku nggak mau lepasin sebelum dia bilang ampun.” Milo tetap pada pendiriannya. Aku tidak mengerti. Egois sekali hantu ini.

“Abang bisa lepas kalau bilang ampun.”

“Ampun. Aku tidak akan berani lagi.” Milo melepas pegangannya, preman itu langsung melesat jauh.

“Thanks.”

“Sebagai balas jasa atas pertolonganku, kamu harus bantu aku. Sekarang.”

Huh, ini namanya tidak tulus taukkk!

*

“Ayolah, bantu aku…” Milo menatapku dengan tatapan memelas. “Apa salahnya membantu hantu?”

“Jadi kamu mau membantuku tadi, karena ada maksud tersembunyi ya?” Tanyaku.

“Aku memang ingin membantu kamu, Mel.” Milo menatapku.

“Memangnya apa yang harus aku lakukan?” Akhirnya aku melunak. Aku juga penasaran, dia ingin aku membantu apa?

“Jadi pacarku…” Ucap Milo tersenyum.

Glek.

Apa?! Jadi pacar? Tidak mungkin!

“Mungkin saja, Mel. Kalau kamu mau menerimaku.”

“Kenapa aku harus jadi pacarmu?” Aku menatap tajam kearahnya.

“Aku kesepian, Mel.” Ucapnya. Kenapa raut wajahnya sedikit kurang enak dilihat?

“Kenapa harus aku? Kenapa tidak teman-teman hantu seperti dirimu?” Aku tersenyum mengejek.

“Aku cuma mau kamu…”

Aku tidak pernah tahu apa Milo benar-benar kesepian. Senyum di bibirnya selalu mengembang. Yap, aku sekarang tahu kenapa dia kesepian. Mungkin di rumah tua-nya itu, tidak ada hantu cewek secantik aku. Atau mungkin tidak ada hantu sama sekali. Baru kali ini aku melihat hantu kesepian.

Awalnya aku memang takut pada hantu, yang sering muncul di televisi. Tapi lama-lama aku tidak takut. Milo sering sekali muncul tiba-tiba di depanku. Ketika aku belajar, dia dengan seenaknya muncul di meja belajarku. Iseng ‘kan? Apalagi ketika aku sedang memasak, dia muncul di atas kompor. Sekali-kali aku hidupin kompornya pas dia muncul. Biarin aja kebakar. Tapi memangnya hantu bisa kebakar? Em, mungkin tidak. Ngaco ah.

Aku yang selalu serius belajar jadi lupa gimana sikap serius itu. Karena Milo selalu memasang tampang lucu tapi jelek sekali. Aku ‘kan tidak tahan kalau tidak tertawa. Tapi untunglah, dia tidak pernah muncul ketika aku mandi. Bisa gawat. Sumpah tidak akan terbayang. Kemarin, Milo mengajakku jalan berdua di pantai. Istilahnya ngedate. Milo tetap memakai kaus merah dan celana jins gelap. Hantu mana punya baju ganti? Aku cukup memakai terusan rok selutut dan sepatu cats putih. Milo ‘agak’ terpana. Entahlah, aku tidak tahu apa dia benar-benar merasa bahagia bersamaku. Tapi aku bahagia bersamanya. Tidak tahu sampai kapan. Jalan berdua bersama hantu memang tidak mengenakan. Aku berbicara dengannya malah dikira orang gila. Bicara sendiri. Padahal aku sedang bicara serius sama Milo. Milo yang melihat wajahku cemberut, malah tertawa ngakak. Rese ‘kan dia?

Kami makan jagung bakar. Eh, bukan kami, tapi aku seorang. Milo tidak bisa makan makanan manusia.

“Emang dulu kamu nggak manusia?” kataku mengejek. Milo merengut.

Aku suka melihatnya seperti…manusia. Bisa tertawa, manyun, gokil dan semua hal yang ada di dunia manusia. Aku bahkan sampai lupa kalau dia itu hantu. Date kami berakhir dengan jalan kaki, sambil merasakan hembusan hawa dingin malam hari.

Hemm…hari ini Milo belum muncul. Sejak pagi sampai di sekolah dia tidak muncul. Aku merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Milo. Tapi apa? Apa Milo sudah kembali ke ‘dunia-nya’ sendiri dan berenkarnasi menjadi manusia baru. Lalu aku dilupakan. Memangnya aku siapa dia tidak boleh melupakanku? Aku hanya pacar sementara untuknya. Agar dia tidak kesepian. Aku merasa kehilangan. Setidaknya untuk sementara waktu karena pasti aku akan melupakannya.

Pelajaran berakhir, Milo tidak juga muncul. Ayolah, setidaknya buat aku terkejut. Atau kamu menjahiliku juga tidak masalah. Aku akan mengatakan ini sekali. Jadi kamu -Milo- dengarkan aku.

Aku rindu kamu.

Gila! Aku merindukan hantu. Hantu yang baru aku temui. Aduh, Mel, kamu harus cuci otak. Biar kepala kamu tidak memikirkan si hantu Milo itu.

“Hai, kangen yah?”

“Milo?”

Milo muncul ketika aku berbelok arah ke jalan besar. Aku membuang muka. Marah. Milo tertawa ngakak. Memangnya ada yang lucu?

“Sana! Jauh-jauh!” aku berjalan cepat. Jalanan cukup ramai. Aku mengomel sepanjang jalan. Milo sepertinya mengejarku. Lho? Bukannya dia bisa menghilang?

Tiba-tiba, entah siapa yang mendorongku, aku terjatuh sampai lutut tanganku bergesekan dengan trotoar. Sakit. Mobil Avansa melesat tanpa memperdulikanku. Penabrak tidak bertanggung jawab. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa.

Semuanya gelap. Ada sisi terang yang mengharuskan aku untuk mendekat. Aku melihat bayangan seseorang. Dia… Milo. Aku memeluknya. Dia menatapku lembut. Aku seperti tersengat listrik. Milo mengecup keningku.

“Aku akan pergi. Jaga dirimu ya, Mel.”

“Pergi ke rumahku ‘kan?”

“Nggak. Aku nggak punya waktu lagi. Thanks atas bantuanmu waktu itu. Karena kamu aku bisa hidup lebih lama. Aku bisa tenang karena sudah menolongmu. Aku sayang kamu, Mel.”

Milo menghilang. Tiba-tiba semua kegelapan berubah menjadi slide yang berputar. Di mana aku pernah menolong seseorang yang tertabrak mobil. Lima tahun yang lalu. Aku menyumbangkan banyak darah untuknya. Sampai dia selamat dari maut. Aku baru tahu namanya dari perawat. Milo. Nama yang memang tidak asing dalam hidupku. Sekarang, dia datang lagi dan menolongku.

“Mel, kamu udah sadar?” tanya Ibu padaku. Aku di kamar, dan ibu menungguiku di samping tempat tidur.

“Baik, Bu.”

Mungkin aku tidak akan baik-baik saja tanpa Milo.

3 tahun kemudian…

Seorang anak kecil berlari ke arahku, memberi bunga, dan berkata, “Milo sayang kakak.”

Apa dia renkarnasi Milo? Entahlah.

End.

Karya : Bea & Mey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *