Sixth Sense (1)

Julie menggeret kopernya dengan susah payah, sebuah ransel berukuran sedang bertengger di punggungnya. Peluh bercucuran di dahinya yang tertutup poni dengan rambut dikuncir ekor kuda.

“New York, i’am here,” gumamnya senang, ia kini berada di negara asing seorang diri. Ia berdiri tegap menantang kerasnya hidup, selembar kertas berisikan sebuah alamat apartementnya yang baru tergenggam erat di tangannya. Sebuah gedung bertingkat yang megah dan elegant.

“Permisi, aku penghuni baru apartemen no 113,” sapa Julie pada recepsionist di depannya.

Wanita itu kelihatan terkejut dengan perkataan Julie, tapi ia segera bersikap profesional.

“Apartemen 113 ada di lantai 13, Miss. Ini kuncinya,” wanita itu menyodorkan sebuah kunci padanya, Julie menerimanya setelah mengucapkan terima kasih. Wanita itu masih mengikuti Julie sampai ia menghilang dari pandangannya, dan itu membuat Julie sedikit merasa risih.

Ternyata di lantai 13 hanya ada dua kamar yang saling berhadapan, kamar 112 dan 113. Ketika Julie sampai di depan kamarnya, seorang pria seumurannya keluar dari kamar di depannya. Pria berambut cokelat gelap itu memakai t-shirt yang dilapisi jaket dan celana jeans. Mata birunya mengingatkan Julie pada lautan luas yang membuatnya tenang saat menatapnya.

“Fiuhh, sepertinya ini adalah hari keberuntunganku. Bisa lepas dari orangtua yang over protektif, dapet beasiswa di kampus terkenal di luar negeri, dan sekarang ia dapat apartemen mewah dengan sewa yang sangat murah ditambah tetangga yang ganteng pula,” Julie tersenyum-senyum sendiri.

Pria itu memperhatikan Julie dengan heran, seolah-olah gadis itu adalah manusia planet yang tersesat di negaranya.

“Kau .., tinggal di sini?” tanyanya kaget.

“Iya, kita tetangga sekarang. Namaku Julie, salam kenal,” kata Julie ramah sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

“Sebaiknya kau berhati-hati,” pesannya tanpa menggubris uluran tangan Julie dan pergi begitu saja.

“Dasar orang aneh,” gerutunya.

Begitu pintu kamar dibuka ia bisa mencium bau pengap karena sudah lama tidak dibersihkan. Ia menutup hidung saat debu-debu beterbangan menerpa wajahnya yang membuatnya terbatuk-batuk. Semua barang yang ada ditutup kain putih bahkan gorden putih yang dipasang berkibar-kibar karena ditiup angin padahal jendela dalam keadaan tertutup.

Julie bisa merasakan sesuatu yang mengganggu instingnya. Ia melihat keadaan sekitar, televisi layar datar di depannya tiba-tiba saja menyala dengan sendirinya.

“Brukk!” pintu di belakangnya menutup dengan keras, Julie terkesiap karena kaget sampai koper yang dipegangnya terlepas. Ia berjalan perlahan menyusuri apartemen barunya.

Kamar tidurnya yang besar terlihat nyaman dan empuk, begitu ia masuk sebuah cermin kecil yang tergantung di dinding jatuh berkeping-keping. Julie menutup pintu kamarnya dan kembali menyusuri ruang tamu lalu pergi ke dapur yang langsung berhubungan dengan kamar mandi.

Sebuah pisau dapur melesat cepat ke arahnya, Julie segera berkelit untuk menghindari pisau tersebut. Ia meneruskan langkahnya ke kamar mandi dan sebuah bak mandi berukuran sedang sudah terisi penuh dengan cairan merah yang berbau anyir.

Dengan santai Julie kembali ke ruang tamu dan duduk di sofanya dengan nyaman.

“Sudah cukup main-mainnya, keluarlah!” kata Julie tegas.

Tiba-tiba sesosok makhluk perempuan berambut panjang dengan wajah dipenuhi darah muncul di depannya. Lehernya terdapat luka seperti sayatan benda tajam yang menganga lebar dan mengeluarkan darah. Pakaiannya compang camping dan berlumuran darah di sana sini.

“Kau harus mati,” desisnya lirih, sosok itu melayang perlahan dengan tangan terangkat seolah hendak mencekik leher Julie.

“Namaku Julie, salam kenal,” Julie menjabat tangan hantu wanita itu dengan senyum tersungging di bibirnya. Hantu itu berhenti dan terkejut dengan sikap ramah Julie.

“Kau tidak takut padaku?” tanyanya heran, “bagaimana kau bisa menyentuhku?”

Julie terkekeh dengan keheranan makhluk di depannya itu. “Aku akan menjawab pertanyaanmu tapi sebelum itu kau harus merubah penampilanmu dulu,” kata Julie.

“Baiklah,” hantu itu menjentikkan jarinya, dalam sekejap hantu mengerikan itu sudah berubah menjadi gadis cantik berambut pirang dengan senyumnya yang menawan, “Namaku Anna,” ucapnya ramah, ia senang karena ia bisa mendapat teman baru yang menyenangkan.
(Bersambung..)

Karya: Nanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *