Sixth Sense (2)

“Sixth Sense? Jadi kau memiliki indera keenam untuk melihat arwah?” Anna berseru kaget, “pantas saja kau tidak takut padaku. Apa di negaramu kau sudah sering melihat yang lebih menyeramkan dari penampakanku tadi?”

Julie mengangguk, “Lumayan, tapi kalau penampilanmu seperti ini, kau adalah hantu tercantik yang pernah aku lihat,” puji Julie.

Anna tersenyum senang, selama jadi hantu baru pertama kali ada yang memujinya lagi, “Terima kasih.”

“Jadi kau tinggal di sini untuk menakut-nakuti setiap orang yang mau menyewa apartemen ini? Pantas saja hanya kamar ini yang sewanya sangat murah,” kata Julie.

“Ya, aku tidak tahu harus tinggal di mana setelah aku mati. Jadi lebih baik aku tinggal di sini daripada harus gentayangan di jalanan,” ujarnya enteng.

“Apa kau sudah lama menjadi hantu?” tanya Julie penasaran.

“Cukup lama, aku mati saat usiaku 22 tahun. Sekitar 20 tahun yang lalu. Dulu aku gentayangan tak tentu arah, sebelum aku menetap di sini,” kenang Anna.

Julie merinding, Anna meninggal saat seumurannya. Setahun lagi umurnya 22 tahun. Ia tidak bisa membayangkan kalau harus meninggal dalam usia semuda itu, “Kenapa kau memilih apartemen ini?”

“Asal saja, karena tempat ini cocok untukku,” jawabnya singkat.

“Lalu, kenapa kau bisa mati dan menjadi hantu? Bukankah semua yang mati akan berada di alam lain? Kecuali kau punya urusan yang belum terselesaikan,” tebak Julie.

“Kau akan mengetahuinya nanti, aku sensitif kalau berbicara mengenai kematianku,” jawabnya misterius.

Julie mengangguk paham, siapapun pasti tidak ingin mengingat tentang kematiannya bukan?

“Tadi aku berpapasan dengan tetangga kita, seorang pria tampan tapi dingin. Apa kau mengenalnya?” tanya Julie mengalihkan pembicaraan.

“Kau bertemu dengan Josh?” Anna balik bertanya, tampangnya berubah dingin.

“Jadi namanya Josh?” gumam Julie.

“Sebaiknya kau berhati-hati dengannya,” pesan Anna.

“Hei, dia juga mengatakan hal yang sama padaku. Kenapa aku harus berhati-hati?” tanya Julie heran.

“Kau akan tahu sendiri nanti,” Anna bersikap cuek lalu menghilang.

Julie mendengus karena tidak puas dengan jawaban Anna. Dia melihat sekeliling, ia sadar kalau ia harus segera membersihkan apartemennya dari debu-debu. Tapi perutnya kelaparan dan ia tidak bisa bekerja dengan perut kosong.

“Sebaiknya aku ke bawah untuk cari makan,” gumamnya, “Anna, kau harus membantuku membersihkan tempat ini nanti. Jangan kabur ya!” teriak Julie sebelum keluar kamar.

Ketika keluar dari apartemennya, Julie kembali berpapasan dengan Josh. Kebetulan yang menyenangkan!

“Hai, Josh,” sapa Julie ramah.

Josh mengernyit heran, sikapnya berubah waspada, “Darimana kau tahu namaku? Kita bahkan belum berkenalan.”

Julie menepuk dahinya, dia terlalu senang bisa bertemu Josh sampai ia lupa kalau mereka memang belum kenalan. Dan sekarang dia harus menjawab apa padanya?

“Apa dia yang memberitahumu?” selidik Josh, matanya menatap Julie dari ujung rambut sampai ujung sepatunya.

“Dia? Siapa?” Julie balik bertanya.

“Lupakan,” jawabnya sambil berlalu pergi tanpa menghiraukan rasa penasaran Julie.

“Apa yang dia maksud Anna? Jadi dia bisa melihat hantu juga? Mungkin saja begitu,” Julie mengoceh sendiri.

***

Julie sedang membereskan apartemennya ketika ponselnya berdering, “Halo, Ma,” sapanya.

Ia bisa mendengar suara khas Mamanya yang sangat amat terlalu mengkhawatirkannya.

“Tenang saja, Ma. Aku sudah menemukan tempat yang bagus untuk tempat tinggal,” kata Julie menenangkan.

“Lalu bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Mamanya.

“Besok aku akan mengurusnya ke kampus. Mama dan Papa baik-baik saja kan?” tanya Julie.

“Kami merindukanmu, sayang. Selama ini kau kan tidak pernah tinggal sendirian, apalagi di negeri orang. Kami sangat mengkhawatirkanmu,” Mamanya hampir menangis.

“Aku tidak sendirian kok, Ma,” Julie mengerling kepada Anna.

“Kamu tidak sedang bersama errr…, hantu kan?” tebakan Mamanya tepat sasaran.

“Mama benar sekali! Tapi tenang saja, hantu di sini cantik sekali, Ma. Dia juga seumuranku jadi kami bisa jadi teman ngobrol yang seru,” kata Julie, Anna cuma senyum-senyum mendengarnya.

Mamanya mengerang frustasi, “Terserah apa maumu, sayang. Ingat pesan Mama jangan pernah bergaul sembarangan dengan pria, apalagi sampai melakukan free seks! Ingat itu, kalau tidak Papa dan Mama akan langsung datang dan menjemputmu pulang. Oya, salam dari Papamu,” kata Mamanya panjang lebar.

Julie terkikik geli mendengar pesan Mamanya, pasti Papanya tidak mendapat jatah bicara karena itu hanya menitipkan salam untuknya, “Sampaikan salamku untuk Papa juga, Ma. Jangan terlalu keras pada Papa. I love you,” kata Julie mengakhiri pembicaraannya.

“Aku yakin orangtuamu sangat menyayangimu,” celetuk Anna.

“Mereka orangtua terbaik di dunia,” tambah Julie ceria.
(Bersambung..)

Karya: Nanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *