Sixth Sense (3)

Universitas New York memang sangat mengagumkan. Gedung-gedung yang megah untuk setiap jurusan membuat Julie linglung, ia tidak tahu harus ke mana di tengah kampus yang luas ini dan dia sama sekali tidak mengenal siapa pun di sini.

“Hai,” sapa seorang gadis berambut cokelat pendek dengan mata hijau yang mempesona. Dia tersenyum ceria kepada Julie, membuat Julie ikut tersenyum, “Kau anak baru ya?” tanyanya ramah.

Julie mengangguk, “Ya, aku menerima beasiswa untuk melanjutkan S2 di kampus ini. Tapi aku tidak tahu harus ke mana, apa kau bisa menunjukkan ruang pemilik kampus ini?” jawab Julie jujur.

Mata hijau gadis itu berbinar, “Wow, jadi gosip tentang beasiswa itu benar. Murid lulusan dari universitas di Indonesia dengan nilai cum laude. Kau pasti sangat jenius,” puji gadis itu riang.

Julie tersipu mendengar pujian terang-terangan dari gadis yang baru dikenalnya itu, “Terima kasih, tapi aku tidak sehebat itu kok,” balasnya.

“Oya, kau mengambil jurusan apa?” tanya gadis itu lagi.

“Aku mengambil Pendidikan Magister Psikologi, dan menjadi seorang psikolog,” jawab Julie mantap.

“Apa?” gadis itu terperangah, “Dengan otak jenius sepertimu, kamu mau menjadi seorang psikolog? Sayang sekali.”

Julie agak tersinggung dengan kata-kata gadis itu, ‘Memang apa salahnya menjadi seorang psikolog?’ batinnya.

Melihat lawan bicaranya diam saja gadis itu sadar kalau ia sudah menyinggung perasaannya, “Maafkan aku, aku tidak bermaksud berkata begitu. Mulutku ini memang susah sekali diatur, maaf ya,” kata gadis itu menyesal.

“Tidak apa-apa, aku mengerti,” Julie tersenyum manis, ia merasa gadis ini adalah gadis yang baik.

“Kalau begitu, ayo aku antar ke ruang Mr. Johnson,” ajak gadis itu, wajahnya sudah kembali ceria seperti semula. Gadis yang menyenangkan.

“Mr. Johnson?” Julie mengerutkan kening.

“Iya, Mr. Johnson adalah pemilik universitas ini,” jelas gadis itu lagi sambil memberi isyarat agar Julie mengikutinya.

Ruangan itu tertutup tapi Julie merasa gemetar karena walau bagaimana pun ia takut kalau Mr. Johnson tidak menyukainya dan membatalkan beasiswanya. Gadis itu sudah pergi meninggalkannya karena ada kuliah, jadi tinggallah Julie seorang diri menatap pintu besar itu. Dengan ragu-ragu ia mengetuk pintu perlahan.

“Masuk,” suara yang tegas dan terdengar sangar itu menyahut dari dalam.

Dengan takut-takut Julie masuk ke ruangan yang luas dan megah tersebut, seorang pria paruh baya dengan wajah dingin duduk tepat di depannya. Menatapnya seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup, ‘Lebih baik aku menghadapi hantu daripada harus berhadapan dengan orang ini,’ pikirnya.

“Ada apa, Nona? Saya tidak punya banyak waktu,” tegurnya ketus.

“Eh, maaf, Mr. Johnson. Saya Julie, saya adalah penerima beasiswa di universitas ini,” ujarnya gugup.

“Jadi kamu orangnya,” gumamnya, Mr. Johnson menatap pakaian Julie yang saat itu memakai celana jeans panjang dan blouse lengan panjang hitam, “Cukup rapi, perlu kamu ketahui saya tidak suka mahasiswa saya berpakaian minim. Dan saya ingatkan supaya kamu harus belajar dengan serius, beasiswa ini bukan main-main. Saya bisa saja mencabut beasiswa kamu kapan pun saya mau kalau saya tidak puas dengan nilai-nilai kamu,” kata Mr. Johnson memperingatkan dengan nada keras.

“Baik, Mr. Johnson. Saya akan berusaha semampu saya, terima kasih,” ucap Julie mantap.

“Tunggu dulu,” tahan Mr. Johnson ketika Julie hendak keluar ruangannya, “kenapa kamu mengambil jurusan psikologi?”

“Karena cita-cita saya ingin menjadi seorang psikolog, Mr. Itu saja,” jawab Julie singkat.

Mr. Johnson tertegun dengan jawaban mahasiswa barunya tersebut, Julie mengingatkannya dengan seseorang yang ia sayangi. Tapi ia tidak mau mempermasalahkan dan menyuruhnya keluar.

Julie bernapas lega begitu keluar dari kantor Mr. Johnson, ia bisa sesak napas kalau berada di ruangan itu lebih lama lagi. Karena sejak tadi ia terlalu tegang melihat wajah dingin Mr. Johnson yang sekeras batu. Tapi sekarang ia kebingungan karena masih tidak tahu di mana letak kelasnya.

“Ikut aku,” kata sebuah suara yang familiar di telinganya.

Julie menoleh dan mendapati Josh sudah berdiri beberapa langkah darinya, “Josh?”

Tiba-tiba pintu Mr. Johnson kembali terbuka, pria itu mematung di depan pintu ketika melihat Julie masih berdiri di sana.

“Aku lupa menunjukkan di mana kelasmu, kau bisa ikut dengan dia. Kebetulan dia satu kelas denganmu,” kata Mr. Johnson datar, Julie melihat sekilas wajahnya menunjukkan kebencian kepada Josh. Tapi kenapa?

“Tanpa anda suruh pun saya akan melakukannya, Mr. Johnson,” kata Josh dingin, rahangnya mengeras ketika melihat pria itu. Ada hubungan apa diantara mereka berdua? Julie bertanya-tanya dalam hati.
(Bersambung..)

Karya: Nanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *