Sixth Sense (4)

“Sepertinya dia menyukaimu,” komentar Josh ketika mengantar Julie ke kelas.

Julie mengernyit, “Aku akui Mr. Johnson memang masih gagah di usianya yang sudah hampir setengah abad. Tubuh tegap, rambut pirang keemasan dan mata cokelatnya tampak masih mempesona, tapi sayang aku tidak tertarik pada pria seumuran Papaku sendiri,” cerocos Julie panjang lebar.

“Aku tidak menyangka kau memperhatikannya sedetail itu,” Josh terkekeh, “maksudku dia menyukaimu sebagai mahasiswanya.”

Muka Julie merah padam karena sudah salah menerka, tapi ia cepat-cepat membantah, “Mana mungkin dia menyukaiku. Kau tidak melihat tampangnya yang seolah ingin menelanku hidup-hidup?”

“Terserah kalau kau tidak percaya,” Josh mengendikkan bahunya lalu berjalan lebih cepat.

Tiba-tiba langkah Julie terhenti ketika melihat sesuatu yang mencurigakan, instingnya mengatakan ada yang tidak beres.

“Ada apa? Kau merasakan sesuatu?” selidik Josh seraya menatap gadis itu lekat-lekat.

“Aku harus pergi!” tanpa menunggu jawaban, gadis itu segera berlari mengikuti instingnya.

Julie tertegun ketika melihat sesosok bayangan hitam berdiri di ujung balkon lantai 3. Di depan bayangan itu seorang gadis berambut panjang sedang berdiri membelakanginya.

“Jangan-jangan gadis itu mau bunuh diri,” gumam Julie lirih, “Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?” pertanyaan Julie tertuju pada sosok bayangan tersebut.

Kali ini Julie bisa melihat lebih jelas, bayangan itu merupakan sesosok hantu pria tampan dengan tubuh tinggi menjulang. Ia bisa melihat tatapan kesedihan saat matanya beradu dengan hantu itu.

“Namaku Chris. Aku hanya ingin dia mati, aku tidak tahan melihatnya terus-terusan murung seperti itu. Aku mencintainya, tolong bantu aku,” kata hantu itu memelas.

“Tidak! Dia tidak boleh mati kalau memang belum saatnya, hidupnya masih akan berjalan, Chris,” kata Julie tegas.

Gadis itu menoleh dan menatap kebingungan, “Kau bilang apa barusan? Apa Chris ada di sini? Katakan!” jerit gadis itu histeris, ia menangis sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

Julie memperhatikan gadis itu, mata cokelat ditambah rambut hitam panjangnya sangat indah. Apalagi kulitnya yang putih mulus, tapi sayang wajah cantiknya terlihat pucat dengan mata panda yang sangat jelas. Chris menatap gadis itu dengan perasaan iba, sedih dan terluka. Mengenaskan!

“Siapa namamu?” tanya Julie sopan sambil tersenyum manis pada gadis itu, ia berusaha menenangkan sebisanya.

Gadis itu menatap ragu, tapi melihat senyum tulus di wajah Julie membuatnya sedikit yakin.

“Emily,” jawabnya serak, “apa benar kau bisa melihat Chris?”

Julie mengangguk mantap, “Ya, dia ada di sini sekarang. Chris sedang menatapmu, apa kau tidak sadar kalau setiap hari dia mengikutimu? Apa kau tidak merasakan kesedihannya saat melihatmu seperti ini?” kata Julie tenang, ia berusaha meyakinkan Emily dengan ketenangannya.

“Chris sedih melihatku?” tanya Emily ragu, “di mana dia?”

“Dia ada di sini, tepat di depanmu, Emily. Chris seharusnya tidak ada di dunia ini lagi, tapi ia masih terbebani olehmu. Lepaskan dia, jalani hidup dengan gembira agar dia bisa pergi dengan tenang,” kata Julie meyakinkan.

Tangisan Emily makin menjadi, kali ini bukan tangis kesedihan tapi tangisan penyesalan. Ia tidak menyangka karena sikapnya, Chris tidak tenang di alam sana.

“Maafkan aku, Chris. Aku terlalu mencintaimu, sehingga aku tidak rela dengan kematianmu. Tapi sekarang aku sadar kalau kita sudah berbeda. Pergilah dengan tenang, Chris,. Aku akan baik-baik saja,” ujarnya tulus, sedikit senyum terukir di bibirnya.

Chris menghela napas lega, akhirnya ia bisa meninggalkan tunangannya dengan tenang, “Terima kasih, katakan padanya kalau aku sangat mencintainya. Jaga diri baik-baik,” ucapnya sebelum menghilang.

“Dia bilang kau harus menjaga dirimu baik-baik, dan dia sangat mencintaimu,” Julie membeo pesan terakhir Chris, “sayang sekali pria setampan itu harus mati muda.” gumamnya.

Emily tersenyum manis, “Terima kasih, ehmm siapa namamu? Sepertinya aku baru pertama melihatmu?”

“Namaku Julie, mahasiswi baru di kampus ini. Senang berkenalan denganmu, Emily,” kata Julie ramah.

“Aku juga,” balas Emily tulus.

“Sepertinya aku harus segera ke kelas, sampai jumpa lagi,” kata Julie sambil berlari tergesa-gesa sampai menabrak seseorang.

“Hati-hati kalau jalan, ini bukan lapangan bola, Julie,” kata Josh mengingatkan.

“Josh?” Julie terperangah, “kau mengikutiku?”

“Bukankah pria tua bangka itu menyuruhku untuk mengantarmu ke kelas?!” jawab Josh kesal, tapi sedikit senyum tersungging di bibirnya, “kau memang pantas menjadi psikolog,” desisnya lirih.

“Apa? Kau mengatakan sesuatu?”

“Tidak, cepat jalan kita sudah terlambat, bodoh!” umpat Josh dengan langkah lebar sampai Julie kewalahan mengimbanginya.

(Bersambung..)

Karya: Nanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *