Sixth Sense (5)

Pertama kali memasuki ruang kelasnya yang Julie rasakan adalah, ketakutan! Ia bisa merasakan aura kebencian yang pekat di dalamnya, entah milik siapa. Yang jelas seseorang di kelasnya yang memiliki aura tersebut.

“Ada apa? Kenapa berhenti?” selidik Josh ketika melihat Julie gemetar di depan pintu.

“Aku hanya merasa …, gugup!” dustanya.

Josh tersenyum penuh arti, ia menggenggam tangan Julie untuk menguatkan, “Kau akan terbiasa dengan ini, percayalah!”

Mau tidak mau Julie cuma bisa mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum, genggaman Josh terasa begitu hangat dan pas di tangannya, membuatnya sedikit tenang.

“Permisi, Mr. Juan, maaf kami terlambat karena tadi kami dari ruang Mr. Johnson. Ini adalah murid baru penerima beasiswa itu,” kata Josh sopan pada dosen kami yang sudah memulai pelajaran.

Pria berkacamata dan setengah botak itu hanya mengangguk dan dengan isyarat tangannya menyuruh kami duduk tanpa berkata apa-apa.

Seluruh murid menatap Julie dengan bermacam-macam pandangan. Ada yang tertarik, penasaran, ada yang acuh bahkan tidak sedikit yang menatap benci karena Josh masih menggenggam tangannya.

“Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri,” kata Julie setengah berbisik, lalu duduk di kursi bersebelahan dengan Josh. Ia mencoba fokus belajar tanpa mempedulikan aura tidak enak itu lagi.

***

“Hei,” sapaan gadis itu membuat Julie tersentak, “kau melamun?”

Julie hanya tersenyum, “Kau mengagetkanku.”

Gadis itu adalah gadis berambut pendek yang mengantarkannya ke ruang Mr. Johnson tadi pagi.

“Aku belum tahu siapa namamu,” kata Julie.

“Namaku Sandy,” jawabnya singkat, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

“Aku Julie,” ujarnya memperkenalkan diri.

“Aku sudah tahu,” balasnya santai, “Siapa yang tidak kenal murid jenius yang baru pindah kemari?” nadanya terdengar ramah, bukan berupa sindiran membuat Julie terkekeh dengan kejujurannya.

“Hai,” sapa Emily yang tiba-tiba menghampiri mereka.

“Oh, hai, Emily,” sahut Julie.

“Kau sudah mau pulang? Aku ingin mengajakmu ke cafe sebagai ucapan terima kasih,” ajaknya riang.

“Aku sangat tertarik, tapi hari ini aku harus membereskan apartemenku yang berantakan. Maaf sekali, Emily. Mungkin lain kali,” tolak Julie sopan.

Emily mengendikkan bahunya, “Yah, sayang sekali. Tapi baiklah, lain kali saja kita pergi bersama. Aku harus buru-buru karena sopir Papaku sudah menunggu. Sampai juga lagi, Julie,” Emily melambaikan tangannya pada Julie dan tersenyum sopan pada Sandy membuat gadis itu ternganga.

“Bagaimana bisa? Emily, si gadis depresi yang seolah dunia ini sudah berakhir saat ditinggal mati oleh Chris, tersenyum dan mengajakmu ke cafe? Lalu, ucapan terima kasih apa?” ujarnya dramatis.

Julie tersenyum manis dan berucap santai, “Kau lupa kalau kau sedang berhadapan dengan psikolog.”

“Yeah, kurasa kau memang berbakat menjadi psikolog,” puji Sandy akhirnya.

Saat itu Julie merasakan aura kebencian itu lagi, tapi kali ini berbeda dengan yang tadi. Julie mengikuti instingnya dan ia tertegun melihat Josh berdiri berhadapan dengan dua pria paruh baya dan salah satunya Julie kenal yaitu Mr. Johnson.

“Wah, ayah dan anak sedang bertengkar lagi!” seru Sandy girang.

“Apa maksudmu dengan ayah dan anak?” tanya Julie.

“Apa kau tidak tahu kalau Mr. Johnson adalah ayah dari Joshua Johnson?” Sandy balik bertanya dan dijawab oleh gelengan samar Julie.

“Wajar kalau kau tidak tahu, karena kau baru satu hari di sini. Mr. Johnson adalah pemilik kampus ini dan Joshua adalah pria paling diminati oleh sebagian besar mahasiswi di sini. Tapi sayang, hubungan mereka sepertinya tidak baik karena mereka sering bertengkar, bahkan mereka tidak tinggal satu rumah,” kata Sandy panjang lebar.

“Bagaimana kau bisa tahu semua itu?” tanya Julie.

“Entahlah, bergosip itu menyenangkan,” ujarnya sambil terkekeh, lalu ia permisi karena ponselnya berbunyi.

Julie kembali memperhatikan adegan menarik di depannya. Ia bisa melihat Mr. Johnson berkata dengan nada marah kepada mereka berdua tapi Julie tidak bisa mendengar perkataannya. Dan saat itu Josh sudah hampir melayangkan tinjunya pada Mr. Johnson.

“Josh, hentikan!” jerit Julie, tanpa sadar ia berlari menghampiri medan perang tersebut.

Ketiga pria itu terkejut dan yang pertama mengambil sikap adalah Mr. Johnson, ia segera pergi tanpa berkata-kata lagi.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Josh terkejut.

“Aku hanya mengikuti instingku,” jawab Julie jujur, “kenapa kau berkelahi dengan ayahmu sendiri?”

“Dia bukan ayahku!” desisnya geram.

Julie menatapnya bingung, ia juga melihat ke arah pria paruh baya yang kelihatannya lebih muda dari Mr. Johnson. Pria itu berbadan tegap dengan rambut cokelat, wajah tampan dan mata birunya yang mempesona. Dari situ Julie menyadari sesuatu… Dan seketika Josh menegang membayangkan pemikiran gadis itu.

(Bersambung..)

Karya: Nanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *