Touché (Bagian 1)

“AKU sudah tak tahan lagi,” Dini terisak. “Mereka bertengkar terus tiap malam, aku jadi ingin kabur saja dari rumah.”
Sahabat-sahabatnya langsung merangkul dan menghiburnya. Mereka menunjukkan wajah bersimpati, dua di antaranya bahkan mengucapkan berbagai kalimat untuk menunjukkan mereka mengerti perasaannya.
Riska yang duduk tidak jauh dari meja mereka tak sengaja ikut mendengar keluhan Dini.
Setidaknya orangtuamu masih utuh, batinnya.
Riska melirik jam tangannya, lalu memutuskan untuk kembali ke kelas. Jam istirahat sudah selesai, dan anak-anak yang lain juga mulai meninggalkan kantin. Sial baginya, saat dia melewati meja Dini, seorang anak lelaki menabraknya karena terburu-buru.
Karena kehilangan keseimbangan, spontan Riska bertumpu pada apa pun atau siapa pun yang ada di dekatnya.
“Kau tak apa-apa?” Tanya Dini, matanya masih sembap dan suaranya masih serak. Ternyata lengan Dini yang menjadi tumpuan Riska.
Riska menelan ludah. Gawat!
Sesuatu dari tangan tempatnya bertumpu mulai menjalari tubuh Riska. Dadanya sesak, seolah dipenuhi air hingga ke pelupuk matanya. Tidak sampai sedetik kemudian, air itu pun mengalir dari kedua sudut matanya.
“Kau tak apa-apa?” Tanya Dini lagi dengan panik diikuti pandangan khawatir teman-temannya yang lain.
Riska menggeleng. “Aku tak sengaja mendengar ceritamu tadi.”
“Eh?”
“Aku merasakan apa yang kaurasakan,” Riska menatap kedua mata Dini.
Dini tertegun. “Kau pernah mengalami apa yang kualami?”
“Aku merasakan apa yang kaurasakan,” ulang Riska.
Dini tidak mengatakan apa-apa, tapi dia tampak terharu.

***

“Kamu sudah makan, Ris?” Tanya Mama begitu sampai di rumah.
“Yup!” Riska menyiapkan piring untuk Mama di meja makan.
“Ada kejadian apa di sekolah?”
“Tidak ada yang spesial, hanya saja aku terpaksa ikut merasakan seperti apa jika orangtuaku bertengkar.”
Mama meringis. “Lalu bagaimana rasanya?”
“Super!” Jawab Riska. “Seharusnya ada yang merekamku dengan video dan memasukkan ke Youtube, then I’ll go global!”
“Kau berharap ada produser film yang menawarimu?” Mama langsung mengambil beberapa sendok nasi.
Riska menghela napas. “Tentu saja!”
Mama tertawa.
“Rasanya aneh. Padahal sejak kecil aku hanya punya Mama karena Papa sudah meninggal,” Riska duduk di sebelah mamanya. “Tapi aku tahu bagaimana jika orangtuaku bertengkar.”
Mama terdiam sesaat.
“Kalau begitu anggap saja ini berkah,” kata Mama. “Ibaratnya, kamu bisa tahu bagaimana rasanya daging walau selama ini kamu hanya makan sayuran.”
Riska mengerutkan kening.
“Mama selalu saja membuat perumpamaan yang aneh.”
“Tentu saja, itu salah satu keahlian Mama,” kata Mama sebelum memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.
Riska tersenyum.
Tidak ada rahasia antara dia dan mamanya karena mereka hanya punya satu sama lain. Papa meninggal ketika Riska masih berumur lima tahun akibat serangan jantung. Saat itu jugalah untuk pertama kalinya kemampuan Riska disadari oleh mamanya.
Ketika maupun setelah Papa meninggal, Mama tidak pernah menangis sedikit pun. Bahkan dia selalu berusaha tersenyum. Anehnya, Riska selalu menangis setiap kali menyentuh mamanya, apalagi Riska juga selalu menjawab “tidak tahu” setiap kali ditanya apa yang terjadi. Sampai akhirnya, setelah cukup lama didesak, dia mengatakan, “Karena kata tanganku, Mama sedih.” Saat itulah Mama sadar akan kemampuan Riska. Anaknya yang saat itu baru berumur lima tahun mengungkapkan perasaan yang tidak bisa dia keluarkan sendiri. Anaknya menangis untuknya. Satu-satunya hal yang masih Riska ingat tentang kejadian sebelas tahun yang lalu itu hanyalah tangisan mamanya yang tumpah sambil memeluknya karena Riska tidak pernah melihat hal seperti itu lagi hingga sekarang.

***

Pelajaran olahraga adalah pelajaran yang paling dibenci Riska, apalagi jika olahraga yang dilakukan berisiko bersentuhan dengan orang lain seperti basket. Itu penyiksaan tersendiri baginya. Walau begitu, setiap hal pasti ada pengecualian. Dan hari ini, pengecualian itu adalah…
“Pelajaran olahraga kali ini adalah…,” Pak Robert mengumumkan, “lari 100 meter.”
Horeee!!! Sorak Riska dalam hati.
Sebagian besar anak mengerang, tapi Riska tidak. Dia tersenyum lebar. Dia sangat suka lari. Bahkan dia salah satu atlet kebanggaan klub atletik di sekolahnya. Setidaknya, dia tidak perlu menyentuh siapa pun saat sedang berlari. Hanya ada dia melawan rekornya sebelumnya.
“Sepertinya kau senang,” komentar Tari melihat wajah Riska.
“Tentu saja,” Riska meregangkan otot. “Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melawan dirimu sendiri.”
“Jangan bilang kata-kata yang baru saja keluar dari mulutmu itu memang berasal dari dirimu sendiri,” Tari menyipitkan mata.
“Memangnya kenapa?”
“Karena aku sudah mengenalmu cukup lama untuk tahu kamu tidak mungkin sebijaksana itu.”
“Cih.”
Tari tertawa. “Oh iya, apa kamu sudah dengar bakal ada guru baru? Guru pengganti Bu Mitha. Katanya pernah kuliah di Amerika dan anak kenalannya kepada sekolah kita. Kamu sudah dengar tentang hal itu?”
“Sudah,” jawab Riska. “Darimu, baru saja.”
“Aku tersanjung, menjadi orang pertama yang memberitahumu.”
“Memang sudah seharusnya,” Riska mengangguk. “Berterimakasihlah.”
“Kadang-kadang aku ingin memukul kepalamu,” kata Tari kesal.
“Kau punya banyak kesempatan untuk itu.”

***

“Aku nggak nyangka guru barunya bakal sekeren ini,” bisik Tari. “Kalau begini, mendingan Bu Mitha melahirkan terus saja.”
“Mungkin kau lupa, Bu Mitha itu manusia,” timpal Riska, “bukan tikus.”
Tari terkikik.
Sebenarnya, dalam hati Riska sependapat dengan Tari. Pak guru baru itu memang keren. Dia tampak lebih muda daripada umurnya walau dia berkacamata. Gaya berpakaiannya bagus, mungkin pengaruh budaya luar tempat katanya dia pernah tinggal. Tatapannya teduh dan cara bicaranya juga menyenangkan. Sepertinya orangnya periang.
“Oke,” kata guru baru itu setelah memperkenalkan diri dengan nama Yunus King. “Let’s start the lesson!”
“Seperti Bu Mitha,” dia melanjutkan dengan logat asing. “Saya akan memberi kebebasan seluas-luasnya untuk kalian berekspresi. Tidak ada benar dan salah ataupun baik dan jelek di sini.”
Pak Yunus mengambil biola, memandangi dan menyentuhnya selama beberapa saat, lalu mulai memainkan lagu. Kelembutan dan ketegasan gesekannya berada pada tempo yang tepat. Jika diibaratkan, gaya permainannya mungkin seperti tinjunya Muhammad Ali : float like a butterfly and sting like a bee alias melayang seperti kupu-kupu dan menyengat seperti lebah.
Semua murid memejamkan mata mencoba menikmatinya. Beethoven’s Symphony No. 7. Begitu Pak Yunus selesai, semua anak bertepuk tangan.
“Thank You,” kata Pak Yunus. “Jangan terintimidasi dengan apa yang baru saja saya mainkan. Permainan yang bagus bukan berasal dari skill. Permainan yang bagus berasal dari feel, dari perasaan. Music adalah tentang bagaimana kita menyampaikan perasaan kita kepada orang lain.”
Pandangan Pak Yunus menyapu semua anak, lalu berhenti pada Riska. Kali ini dia tersenyum.
“Kita disebut berhasil memainkan musik jika orang yang mendengar permainan musik kita dapat merasakan apa yang kita rasakan,” katanya. “Without touching us-tanpa menyentuh kita.”
EH? DIA TAHU? Riska menelan ludah.
(Bersambung)

Karya : Windhy Puspitadewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *