Touché (Prolog)

Riska menangis. Dia terpisah dari mamanya di festival kota karena terlalu asyik memperhatikan mainan burung yang dijual di salah satu lapak. Dia tidak sadar mamanya sudah berjalan agak jauh. Riska masih berumur enam tahun dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain menangis. Tinggi badannya yang belum seberapa membuat dia luput dari perhatian orang-orang yang lalu lalang di depannya. Akhirnya dia hanya bisa berjongkok di bawah salah satu pohon dan menangis.
Setelah lelah, Riska berhenti menangis. Saat memandang sekeliling barulah dia menyadari seorang anak laki-laki seumuran dengannya sedang duduk tidak jauh darinya.
“Siapa?” Tanya Riska masih terisak.
Anak laki-laki itu diam saja. Matanya lurus tertuju ke keramaian di depannya.
“Kau tahu mamaku?” Tanya Riska lagi.
Anak laki-laki itu masih bungkam.
Sama sekali tidak diberi tanggapan, Riska kembali menangis. Sarung tangan warna pink-nya basah. Mamanya selalu memakaikan Riska sarung tangan saat pergi keluar, karena jika tidak Riska pasti menangis dan mengeluh pusing.
Anak laki-laki itu tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah Riska. Dia mencondongkan tubuhnya lalu mengulurkan tangan pada Riska.
Riska menghentikan tangisnya dan menyambut uluran tangan anak itu dengan tatapan bingung.
Sesaat setelah anak itu menjabat tangan Riska, dia mengangguk lalu menarik Riska menuju keramaian.
“Ayo,” katanya kemudian. “Kita cari mamamu.”
“Eh?”
Anak itu tidak mengubrisnya. Mereka terus berjalan di sela-sela orang yang berlalu lalang. Tidak jarang mereka ditabrak orang-orang yang lebih tinggi daripada mereka, tapi Riska mendapati kadang anak itu memang sengaja menabrakkan diri.
“Tidak lama lagi,” kata anak itu.
“Mama?” Kata-kata Riska terhenti. “Kau tahu mamaku?”
Di depan pos keamanan, Riska melihat mamanya sedang menangis di hadapan dua polisi wanita. Anak laki-laki itu melepaskan tangannya.
“Itu mamamu,” katnya.
Tiba-tiba air mata Riska mengalir lagi.
Anak laki-laki itu agak kaget dan mulai ketakutan melihat Riska menangis lagi, tapi kemudian tanpa diduga Riska memeluknya.
“Terima kasih, Superman!” Kata Riska cepat hingga mungkin anak itu tidak mengerti apa yang dia ucapkan, lalu Riska berlari ke arah mamanya. Mamanya yang melihat kedatangannya langsung menjerit histeris dan memeluknya.
“Riskaaa…!”
Kedua polisi itu tersenyum.
Mamanya menciumnya berkali-kali. “Bagaimana kau bisa menemukan Mama?”
“Ah! Itu tadi… Ada anak…” Saat Riska menoleh ke tempat anak laki-laki yang membantunya tadi berdiri, dia sudah tidak ada.

Karya: Windhy Puspitadewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *