Sixth Sense (6)

Julie masih bertanya-tanya dalam hati, kalau Mr. Johnson memang ayah Josh seperti yang dikatakan Sandy, kenapa Josh tidak mengakuinya? Lalu pria ini, dia lebih pantas menjadi ayah Josh karena mereka sangat mirip.

“Ehem,” deheman pria itu membuyarkan lamunan Julie, “Saya James, namamu siapa, Nona?”

“Dia Julie, tetangga baruku di apartemen sekaligus teman sekelasku,” Josh yang menjawab.

James mengernyit heran, “Maksudmu apartemen yang katanya berhantu itu?”

Josh hanya mengangguk mengiyakan.

“Kau gadis yang berani,” puji James terang-terangan, “baiklah, aku pergi dulu. Ada meeting lagi di kantor, sampai jumpa lagi, Josh dan kau Julie,” pamitnya sambil tersenyum ramah, dan dibalas dengan senyum sopan dari Julie.

“Ayo, kita pulang,” ajak Josh.

“Tapi, tadi aku bersama Sandy,” ia celingukan mencari gadis itu.

“Tidak usah menunggunya, biarkan saja dia pergi,” kata Josh datar, ia tidak begitu suka dengan si gadis penggosip itu.

Julie hanya menurut karena ia juga tidak mau pulang sendirian.

“Ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Josh, pandangannya tetap ke depan sambil memegang kemudi mobilnya.

“Apa?” Julie balik bertanya.

“Tentang kejadian tadi,” tambah Josh.

“Tidak. Kau akan menceritakannya padaku kalau kau memang ingin,” jawab Julie santai.

“Kau benar,” ujarnya singkat.

Julie menoleh, Josh sama sekali tidak menatapnya tapi kenapa seolah Josh memperhatikannya dengan intens?

“Apapun yang kau pikirkan tentang kejadian tadi, sepertinya kau benar,” sambungnya.

Julie hanya diam sambil menerka-nerka dalam pikirannya dan Josh pun tidak berkata apa-apa lagi sampai mereka tiba di apartemen.

“Terima kasih sudah memberikan tumpangan,” kata Julie ketika akan masuk ke kamarnya.

Josh hanya tersenyum lalu masuk ke kamarnya juga. Gadis itu siap membersihkan apartemennya ketika dilihatnya, apartemennya sudah sangat-sangat bersih dan rapi.

“Anna…!” jeritnya histeris karena terlalu senang.

Anna tiba-tiba muncul sambil menutup telinganya, “Bisa gak sih gak usah pake teriak-teriak segala?” gerutunya.

“Maaf,” Julie terkekeh, menyadari ia berteriak terlalu keras, “kau yang membersihkan semua ini?”

Anna hanya tersenyum bangga, “Ini masalah kecil untukku.”

“Terima kasih, Anna. Kau sangat membantuku,” ucap Julie tulus.

Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras, Josh muncul di sana dengan wajah panik, “Ada apa, Julie? Kenapa kau berteriak?”

“Tidak apa-apa, Josh. Hanya ada …, kecoa!” jawabnya sambil tertawa dan ia sukses mendapat pelototan dari Anna.

Josh menghela napas lega, ia takut terjadi apa-apa pada gadis itu. Tapi ia langsung berubah waspada ketika merasakan sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Baiklah, aku pergi dulu. Aku senang kau tidak apa-apa,” kata Josh datar lalu kembali menutup pintu.

“Josh yang dewasa dan tampan,” puji Anna kagum.

“Kau menyukainya, Anna?” tanya Julie tak percaya.

“Jangan bilang kau tidak terpesona olehnya, dan dia sangat perhatian padamu,” godanya.

Wajah Julie merona, “Dasar hantu genit!” umpatnya kesal.

“Oh, astaga! Sudah jam 3, aku melupakan sesuatu,” Anna segera menyalakan televisi dan duduk dengan nyaman di sofa.

Julie terperangah melihat apa yang Anna tonton, drama percintaan yang membuatnya mual.

“Kau menonton ini setiap hari?” tanya Julie kaget.

“Sebenarnya tidak setiap hari, karena kalau hari minggu film ini tidak tayang,” jawab Anna tanpa menoleh, matanya fokus pada televisi di depannya.

“Ya ampun, kau bahkan hapal jadwal tayangnya,” ujarnya.

“Duduk dan temani aku nonton,” pinta Anna.

“Sebaiknya aku sambil mengerjakan tugasku saja,” Julie segera ke kamar dan mengambil laptopnya, ia tidak mau terjebak dengan menonton drama seperti itu berdua dengan Anna. Kalau sambil mengerjakan tugas, ia tidak perlu menonton, cukup menemaninya saja sebagai ucapan terima kasih.

Gadis itu tidak bisa berkonsentrasi, ia terganggu dengan suara tangisan Anna yang menyayat hati saat melihat adegan sepasang kekasih yang harus berpisah.

“Aku tidak habis pikir, kenapa ada hantu genit sekaligus melankolis sepertimu?” Julie menggelengkan kepalanya frustasi.

“Shut up! Kau mengganggu konsentrasiku menonton,” sungut Anna dengan berurai air mata.

Julie menyerah, ia memutuskan kembali ke kamar dan mengerjakan tugasnya di sana.

“Josh, kau sedang apa ya sekarang?” gumamnya, ia lalu menepuk pipinya perlahan, “Sial! Kenapa aku harus memikirkannya? Apa benar yang dikatakan Anna, kalau aku sudah terpesona olehnya? Tidak boleh! Dia adalah pria paling diminati di kampus, dan aku tidak mau mencari masalah kalau tidak mau beasiswaku dicabut. Fokus, Julie. Fokus!” tekadnya dalam hati.

_tbc_

Karya : Nanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *