Sixth sense (7)

“Hai, boleh aku bergabung?” seru sebuah suara, ketika Julie, Emily dan Sandy sedang mengobrol di kantin.

Serempak ketiganya menengok dan berpandangan, tapi akhirnya Julie mengiyakan. Suara itu berasal dari seorang pria tampan berambut hitam legam dengan mata abu-abu yang menawan. Dari balik kausnya yang tertutup jaket, Julie bisa melihat otot-ototnya yang kekar.

“Dave!” seru Emily dan Sandy kompak, mereka berdua tampak senang.

“Hai, aku Dave,” sapanya ramah pada Julie, tidak mempedulikan teriakan kedua gadis itu. Bibirnya menyunggingkan senyum miringnya yang menawan.

“Sepertinya aku pernah melihatmu,” kata Julie mencoba mengingat-ingat, ia baru sadar kalau ternyata Dave itu teman sekelasnya.

“Ya, tentu saja. Karena kalian sekelas,” jelas Sandy gemas, ia heran kenapa Julie tidak memperhatikan pria setampan Dave.

Dave terkekeh, ia tidak tersinggung walau Julie tidak memperhatikannya. Ia justru semakin bersemangat.

“Oh, maaf. Aku terlalu fokus pada pelajaran jadi tidak begitu memperhatikan sekelilingku. Namaku Julie,” sahut Julie ramah.

“Fokus pada pelajaran atau pada Josh?” goda Emily.

Muka Julie merah padam, ia tidak menyadari ekspresi Dave yang mengeras karena kesal.

“Nanti siang aku ingin mengajakmu kencan, kau mau kan?” ajak Dave terang-terangan membuat ketiga gadis itu bengong.

“Kita baru saja kenalan, dan kau langsung mengajakku kencan? Apa tidak terlalu cepat?” tanya Julie kaget.

“Lebih cepat lebih baik, aku tunggu sepulang kuliah ya,” kata Dave lalu pergi dari dengan santai, sepertinya ia tipe pria yang tidak suka berbasa basi.

“Wah, kau beruntung sekali, Julie. Bisa dekat dengan dua pria terpopuler di kampus ini,” kata Emily riang.

“Apakah mereka sepopuler itu?” tanya Julie.

“Dave itu pria paling keren, kaya dan paling diincar para mahasiswi di sini, tentu saja setelah Josh. Bedanya Josh itu lebih tertutup dan dingin dibandingkan Dave yang mudah bergaul dan ramah,” Sandy menjelaskan dengan penuh semangat, sepertinya ia mengenal seluruh mahasiswa di kampus ini dengan baik.

“Jadi, apa menurut kalian aku harus pergi dengannya?” Julie meminta saran.

“Tentu saja!” jawab keduanya kompak.

***

“Sudah siap?” tanya Dave sepulang kuliah.

Julie mengangguk, ia sudah beres merapikan buku-bukunya dan segera bangkit menghampiri Dave. Tapi Josh lebih dulu menahan tangannya.

“Kau mau kencan dengannya?” tanya Josh lirih, matanya menatap tajam pada Julie.

“Ya,” jawab Julie singkat.

“Tidak boleh!” kata Josh tegas, “kau harus pergi denganku.”

Josh menarik tangan Julie dan segera mengajaknya pergi tanpa mempedulikan teriakan Julie dan tatapan tajam dari Dave.

“Josh, apa yang kau lakukan?!” bentak Julie kasar ketika mereka sudah berada dalam mobil.

Josh tidak bergeming, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Julie harus berpegangan kuat-kuat meskipun sudah memakai sabuk pengaman.

“Josh, hentikan! Kau mau membuat kita berdua celaka, hah?! Aku belum mau mati!” jerit Julie ketakutan.

Josh menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi. Hanya ada beberapa pepohonan yang menutupi sinar matahari sehingga suasana menjadi teduh.

“Maafkan aku,” gumam Josh hampir tidak terdengar, ia masih memegang kemudinya dengan kuat.

Julie tidak bisa berkata-kata lagi, napasnya terengah-engah dan wajahnya pucat pasi. Untung saja Josh segera menghentikan aksi gilanya tersebut, kalau tidak ia tidak yakin kalau jantungnya masih berada pada tempatnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Josh, suaranya berubah melunak. Tatapan matanya intens menatap gadis itu dengan lembut.

Julie tidak bergeming, ia masih berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu makin cepat. Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia masih berdebar-debar? Apakah karena kebut-kebutan tadi atau karena pandangan mata biru Josh yang menghanyutkan?

“Sepertinya kau baik-baik saja,” Josh berkata sambil menahan senyum.

“Kenapa kau lakukan itu? Kau menggagalkan kencan pertamaku tahu!” sembur Julie setelah bisa mengumpulkan suaranya.

Josh terdiam, tidak mungkin ia mengatakan kalau Dave tergila-gila padanya dan hal itu membuat Josh marah. Tapi, kenapa ia harus marah? batinnya frustasi.

“Jadi, kau belum pernah berkencan sebelumnya?” Josh terkekeh, “akan kutunjukkan kencan yang sebenarnya.”

Dalam hitungan detik, Josh meraih tubuh Julie dalam dekapannya. Dirangkulnya leher gadis itu agar meniadakan jarak diantara mereka. Dan sebelum Julie sadar apa yang terjadi, bibir lembut Josh sudah melumat bibirnya dengan ahli.

Julie tidak bisa melawan, atau lebih tepatnya tidak mau melawan. Ciuman itu begitu intens dan panas, membuat sesuatu di dalam hatinya ikut menghangat.

_tbc_

Karya : nanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *