Bahaya ‘Ain (Bagian 1)

Bahaya ‘Ain (Bagian 1)

Dalam bahasa arab, ‘ain berasal dari kata ‘ana-Ya’inu yang artinya apabila ia menatapnya dengan matanya, dengan kata lain ‘ain biasa disebut dengan tatapan mata jahat atau biasa disebut juga dengan panah jiwa. ‘Ain bisa terlempar melalui tatapan seseorang yang melihat sesuatu yang diiringi dengan rasa dengki/hasad atau rasa kagum yang berlebihan. Adakalanya ‘ain tidak mengenai sasarannya, dan malah bisa juga berbalik kepada si pelempar ‘ain.

Dari Ibnu Abbas dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,
‘Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya ‘ainlah yang mendahuluinya. Jika kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.“.

 

Sahl bin Hunaif bercerita bahwa Amir bin Robi’ah melihat Sahl yang sedang mandi. Karena heran dan kagum, Amir berkomentar “Aku tidak pernah melihat pemandangan seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang sebagus ini.“. Seketika itu, Sahl bin Hunaif langsung jatuh terpelanting. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata “Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan? Mandilah untuk menyembuhkan Sahl!“. Kemudian Amir mandi dengan menggunakan suatu wadah air, dia mencuci wajahnya, dua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung – ujung kakinya, dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya dimandikan kepada Sahl, lantas dia sadar dan bergabung bersama para sahabat, seolah tidak terjadi apa-apa. (HR. Ahmad 15980 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dari kedua hadist diatas sudah sangat jelas betapa bahayanya ‘ain terhadap sesuatu (Manusia, hewan, tumbuhan, benda mati). Berdasarkan hadist diatas juga dapat diambil kesimpulan bagaimana cara untuk mengobati ‘ain yang terkena kepada kita, yaitu dengan mengambil air bekas wudhu atau bekas mandi si pelempar ‘ain, kemudian dimandikan kepada yang terkena ‘ain.

Lalu bagaimana cara untuk mengobati/menyembuhkan jika kita terkena ‘ain dari orang yang tidak kita ketahui siapa pelemparnya? Mari kita simak hadist berikut ini.

Ummu Salamah menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang budak wanita di rumahnya (Ummu Salamah), wajahnya terlihat kusam dan pucat. Lalu Beliau memerintahkan “Ruqyah wanita ini, karena dia terkena ‘ain.” (HR. Bukhari 5739)

Aisyah menceritakan bahwa suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku. Tiba – tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar jeritan bayi nangis. Kemudian beliau bersabda “Kenapa bayi ini menangis terus? Mengapa kalian tidak segera meruqyahnya untuk mengobatinya dari penyakit ‘ain.” (HR. Ahmad 24442)

Berdasarkan kedua hadist diatas dapat kita simpulkan bahwa kita bisa menggunakan ruqyah syar’iyyah untuk menghilangkan ‘ain. Bagaimana caranya?

  • Memohon perlindungan dari Allah azza wa jalla untuk orang yang akan diruqyah.

    أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لامَّةٍ
    Aku memohon perlindungan untukmu (laki – laki) dengan kalimat – kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk.”

     

    أُعِيذُكِ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
    Aku memohon perlindungan untukmu (perempuan) dengan kalimat – kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk.

  • Membacakan surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas.
    Setiap selesai membaca 1 (satu) surah, tiupkan ke orang / hewan / tumbuhan / benda yang terkena ‘ain. Bacaan dapat diulang – ulang sesuai dengan kondisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *